Belajar Monolog Persiapan Menuju Pementasan Monolog

Marciano, Roci and Alfirdaus, Moh Mujib (2019) Belajar Monolog Persiapan Menuju Pementasan Monolog. wilwatikta press, surabaya. ISBN 978-602-52652-4-2

[img] Text (Buku)
Buku Monolog ,Mujib.pdf - Submitted Version

Download (2MB)
[img] Text (plagiasi)
Buku Monolog ,Mujib (1)_11zon.pdf - Supplemental Material

Download (17MB)
[img] Text (Peer review)
Peer review Buku Monolog_11zon.pdf

Download (149kB)

Abstract

Monolog ialah suatu istilah yang tentu saja sudah tidak menjadi asing di negeri ini, sebab kata monolog sendiri telah diserap dan menjadi bahasa Indonesia yang baku, terutama di kalangan terpelajar, baik itu Mahasiswa, Dosen dan kaum intelektual lainnya. Tidak jarang bahwa setiap melihat orang yang berbicara sendirian selalu disebut dengan monolog. Kata monolog di Indonesia akhirnya telah menjadi kata yang umum untuk menyebutkan setiap “orang yang berbicara sendirian”, hal ini juga karena didukung oleh penerjemahan yang terdapat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan bahwa monolog adalah berbicara sendiri. Bila diartikan dari bahasa Inggris dengan tulisan yang berbeda dengan Indonesia, tetapi penyebutannya hampir sama yaitu monologue artinya juga sama yakni berbicara sendiri, sehingga kata monolog yang telah diserap dalam bahasa Indonesia yang juga diartikan sebagai pembicaraan yang dilakukan seorang diri atau sorang pelaku tunggal dalam sandiwara yang membawakan percakapan seorang diri. Dua sumber yang tentu saja masih sama dalam memperkuat tentang arti monolog, namun apakah sama dalam konteksnya dengan pementasan monolog? Karena sudah ada kata pentas sebelum kata monolog. Mengutip catatan Alterman dalam Creating your own monologue mengatakan; A long monologue or monodrama is a one-person play. Monodramas can be a powerful form of theater artinya: monolog panjang atau monodrama adalah permainan satu-orang. Monodrama bisa menjadi bentuk teater yang kuat (Alterman, 2005: 4). Kutipan ini menyatakan adanya kata monolog panjang yang dimainkan oleh seorang actor, jelas bukan hanya berkata atau mengucapkan kalimat saja, melainkan ada permainan, dan permainan inilah yang kemudian penulis tafsirkan menjadi seni acting. Saya juga sepakat bahwa monolog sesungguhnya juga berasal atau dikategorikan dari kata hati yang diformulasikan dalam bentuk cakapan, dan kata hati ini dalam drama dibagi tiga macam diantaranya ada monolog, soliloque dan aside (dialog kesamping panggung) (Abdullah, 2000: 86). Monolog adalah berbicara sendiri dan lawannya ialah dialog. Monolog juga suara hati yang diucapkan, dan seyogyanya bisa didengar oleh penonton dari bangku yang paling depan sampai bangku yang paling belakang di gedung pertunjukan. Mengutip apa yang di tulis oleh seniman teater Indonesia Nano Riantiarno di dalam pengantar buku Sphinx Triple X yang mengatakan; Tradisi ‘monodrama’ Yunani klasik itu, kemudian dilanjutkan oleh Wiliam Shakespeare dalam banyak karya dramanya. Tapi Shakespeare menyebutnya sebagai solilog. Atau soliloque. Itulah adegan ketika seorang pelakon mengungkapkan fikiran dan perasaannya, sendirian, tanpa kehadiran pelakon lain. Sebagaimana mono-drama dalam karya Aeschylus, soliloque juga masih merupakan bagian dari sebuah drama panjang (Riantiarno, xiv; 2004). Sebagai suatu genre dalam kesenian teater saat ini, monolog tergolong penting untuk dipelajari khususnya dikalangan Mahasiswa, baik dari sajian dalam bentuk pertunjukan, maupun dari segi aliran sebagai keilmuan. Karena perkembangan monolog tersebut mengalami banyak bentuk, seperti teater yang juga terbagi dalam teater realis yang memuat teater realisme konvensional, realis epik dan realis sugestif. Begitu juga dengan teater non realis yang memuat kotemporer, eksperimental, tradisional, absurd, dadais, surealis, postrealis dll. Sama halnya dengan monolog yang sudah terbagi dalam beraneka ragam bentuk seperti monolog realis dan nonrealis. Maka tidak menutup kemungkinan genre ini juga berpengaruh terhadap monolog. Meskipun sesungguhnya semua pementasan seorang diri yang menggunakan bahasa verbal di atas panggung bisa disebut monolog, karena menurut Lanvord Wilson dalam Shengold catatan bukunya The Actor's Book Of Contemporary Stage Monologues mengatakan bahwa monolog It's almost aone-act play, artinya: Monolog itu hampir sandiwara satu babak (Shengold, 1987: 324). Dalam kutipan ini jelas bahwa monolog meskipun awalnya bagian dari pengadeganan lakon tapi ia bisa dibawakan dalam satu babak, atau pementasan tunggal satu babak. Oleh sebab itu tidak menutup kemungkinan monolog ini berkembang dengan segala bentuk jenis dan rupanya baik satu babak, maupun lebih dari satu babak, maka ketika perkembangan itu mewujud, akan lahirlah pengistilahan baru dari perkembangan monolog tersebut. Mengapa monolog ini menjadi penting? Sebab di dalam Mata Kuliah Prodi Teater STKW monolog adalah mata kuliah wajib, selain itu Kementerian Pendidikan Tinggi juga selalu mengadakan lomba Monolog dalam rangakaian acara Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) yakni perlombaan monolog mahasiswa tingkat Nasional. Oleh sebab itu penting rasanya diadakan suatu penelitian tentang Pengembangan Teknik Peran Seorang Aktor Untuk Pementasan Monolog Melalui Metode Stanislavski dengan bukunya Actor An Prepare And Building A Character. Sebab banyak peminat yang tampak melakukan suatu kegiatan monolog, tetapi tidak mengetahui landasan secara teoritis tentang teknik bermain monolog itu sendiri. Sebagai bahan pemantik yang akan dijadikan rujukan kajian lebih dalam, saya mengutip kalimat menurut Tina Howe dalam Shengold yang mengatakan; A monologue has to do with revealing things that the character has been unable to reveal before. So it's a very precious moment artinya: Sebuah monolog berkaitan dengan mengungkapkan hal-hal yang karakternya tidak dapat di ungkapan sebelumnya. Jadi ini momen yang sangat berharga (Shengold, 1987: 331). Secara jelas ada penekanan pentingya kata karakter yang perlu dipahami dan dipelajari untuk melakukan pementasan monolog. Oleh sebab itu pada bab empat penulis akan mencoba mengungkap segala tabir yang berkaitan dengan monolog. Adanya kalimat pemantik untuk menelusuri monolog lebih dalam seperti yang disampaikan Shengold tentu saja menambah rasa penasaran akan karakter sebelumnya, sebab di Indonesia sendiri sering terjadi perdebatan yang tidak kunjung usai perihal monolog ini terutama dengan munculnya istilah mono play, one man show, one woman show, one man play, one woman play, soliloqui dll. Akhirnya saya mencoba merumuskan permasalahan yang saya hadapi terkait dengan penelitian ini. Rumusan ini sendiri tentu saja sifatnya bisa berkembang seiring penelitian ini berlangsung.

Item Type: Book
Subjects: 660 - Rumpun Ilmu Seni, Desain dan Media > 670 - Ilmu Seni Pertunjukan > 672 - Seni Teater
Divisions: Kepegawaian
Depositing User: m.pd mujib alfirdaus
Date Deposited: 12 Oct 2023 07:29
Last Modified: 18 Apr 2024 09:16
URI: http://repository.stkw-surabaya.ac.id/id/eprint/382

Actions (login required)

View Item View Item